• MTS AS-SALAFIYAH
  • Sumber Duko Pakong Pamekasan

Malem Salekoran dan Kue Sarapih

Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang penuh keberkahan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Selain diisi dengan berbagai kegiatan ibadah seperti puasa, sholat tarawih, dan tadarus Al-Qur’an, bulan suci ini juga dihiasi dengan beragam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga saat ini oleh masyarakat Madura adalah Malem Salekoran, yaitu malam tanggal dua puluh satu pada bulan Ramadan.

Bagi masyarakat Madura, Malem Salekoran bukan sekadar penanda dimulainya sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan melalui tradisi berbagi. Pada malam inilah masyarakat membuat dan membagikan kue tradisional sarapih kepada tetangga, kerabat, dan para jamaah di masjid atau mushala.

Di lingkungan sekitar saya di  Desa Bangkes Kadur, tradisi ini masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Ketika Malem Salekoran semakin dekat, masyarakat sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Bahkan, bahan-bahan untuk membuat sarapih sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya agar pada hari pelaksanaan semuanya berjalan lancar.

Pada hari Malem Salekoran, suasana kampung terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pagi hari, para ibu-ibu sudah mulai disibukkan dengan kegiatan membuat kue sarapih di dapur masing-masing. Ada yang menyiapkan adonan, ada yang menyalakan tungku, dan ada pula yang mulai memasak sarapih satu per satu.

Kue sarapih yang dibuat tidak hanya untuk dinikmati oleh keluarga sendiri. Justru tujuan utama dari pembuatan kue ini adalah untuk dibagikan kepada orang lain. Masyarakat biasanya membagikan sarapih kepada tetangga di sekitar rumah, kerabat, serta kepada kiai kampung sebagai tokoh agama yang dihormati oleh masyarakat.

Dari kiai kampung inilah kue sarapih kemudian akan dibagikan kembali kepada para jamaah yang datang ke masjid atau langgar untuk melaksanakan sholat tarawih maupun tadarus Al-Qur’an. Dengan cara ini, tradisi berbagi menjadi semakin luas dan dirasakan oleh banyak orang.

Kue sarapih yang dibuat dalam tradisi Malem Salekoran menggunakan bahan-bahan yang sangat sederhana. Bahan utamanya adalah tepung beras dan santan kelapa. Santan yang digunakan biasanya berasal dari kelapa yang tidak terlalu tua, karena santan dari kelapa seperti ini menghasilkan tekstur serabi yang lebih lembut dan rasa yang lebih gurih.

Meskipun bahan-bahannya sederhana, kue sarapih memiliki cita rasa yang khas dan disukai oleh banyak orang. Proses pembuatannya yang dilakukan bersama-sama juga menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di tengah masyarakat.

Dari tradisi ini kita dapat belajar sebuah nilai yang sangat penting dalam kehidupan, yaitu berbagi tidak harus dengan sesuatu yang mewah. Dengan bahan yang sederhana seperti tepung beras dan santan kelapa, masyarakat sudah dapat menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Tradisi Malem Salekoran mengajarkan bahwa kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Selain memperkuat hubungan sosial antarwarga, tradisi ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi muda.

Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan tradisi seperti Malem Salekoran merupakan hal yang sangat penting. Tradisi ini bukan hanya bagian dari budaya masyarakat Madura, tetapi juga menjadi warisan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang patut dipertahankan di tengah perkembangan zaman.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Pentingnya Kolaborasi Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan Anak

"Guru itu ibarat tanah, siswa adalah bunganya, dan orang tua adalah airnya. Sebaik apa pun tanah memberi nutrisi pada bunga, tetapi jika bunga tidak pernah disirami air, maka ia akan m

26/11/2025 14:53 - Oleh Norholis, S.Pd - Dilihat 305 kali
“Ketika Guru Menanam, Tapi Orangtua Tak Menyiram – Anak Akan Jadi Apa?”

  Pendidikan bukanlah tugas tunggal. Ia adalah ladang besar yang harus digarap bersama oleh banyak tangan, terutama guru dan orang tua. Jika guru menanam benih ilmu, nilai, dan ka

06/08/2025 19:07 - Oleh Norholis, S.Pd - Dilihat 907 kali